Everythinf has changed
Disini. Tepat pukul 10 malam. Di hari Rabu. Sejenak aku terpikir untuk membuat sedikit percikan yang ada di benak selama ini, lalu aku tuangkan di sebuah media. Tentunya tak banyak orang tahu. Kau termasuk orang yang beruntung jika membaca ketikan ini. Karena apa? Ya, karena aku tidak suka hal yang berbau publik.
Mungkin lucu jika aku membaca kisahku sendiri. Tapi kali ini, bukan sembarang kisah. Bukan kisah yang aku impikan, bukan pula yang aku tambahkan sendiri. Disini, tertuang kisahku dengan sendirinya. Aku tak menulis semua. Tapi dapat dipastikan, Ini lebih dari cukup untuk menggambarkan masa lalu. Terutama kenangan.
Dulu...
2 tahun yang lalu...
Aku hanyalah gadis dengan berpikiran lurus kedepan. Normal. Bagaikan arus ombak. Yang menerima saja alur kemana ia pergi
Namun, ada satu sisi kehidupanku yang agak berbeda dari kebanyakan
Aku sama sekali tak mengambil pusing mengenai masalah percintaan. Karena aku yakin, hidup tak seindah drama korea. Tetapi, bukan karena berbeda lalu kalian menyimpulkan bahwa aku tidak pernah menyukai seseorang? Jangan salah. Aku pernah. Bahkan sering kali. Namun tak kugubris, karena dari pengalaman yang aku alami. Aku selalu mendapatkan yang tidak aku sukai. Ya, begitulah alurnya. Dan karena itu pula aku tak pernah mengurusi hal hal yang berbau cinta. Tapi aku salah. Hal yang tergolong normal, lurus, mengikuti ombak itu hanya omong kosong belaka. Sejak umur ku menginjak 16 tahun. Pikiran ku berubah.
Rumit.
Penuh.
Dan aku lupa caranya kembali normal.
Aku juga lupa bahagia.
........
Ada seseorang yang datang. Tak hanya menghampiri secara fisik namun juga batin. Jikalau aku ceritakan bagaimana kami bisa bertemu. Mungkin tidak cukup. Sebenarnya bisa saja. Namun aku tidak mau menceritakan hanya sekedarnya. Dia, seseorang yang punya banyak percikan dalam hidupku. Dan aku harus menceritakan dalam lika-liku yang panjang. Maaf. Kali ini aku berusaha menceritakan point, mengapa kutulis ini. Bukan point mengapa kami ada.
Ya, seseorang itu. Datang dengan jalan yang panjang. Rumit. Dan ... ntahla. Jarang sekali hubungan kami berjalan mulus. Tidak mulus bukan berarti kami sering meributkan sesuatu. Ini salah. Sejak awal memang orang orang yang berada di sekitar kami terkesan menguasai hubungan daripada yang punya. Dan seiring berjalannya waktu, ada atau tidaknya status pada kami bukanlah menjadi masalah utama. Itu sudah biasa. Karena yang kami pedulikan hanyalah soal perasaan. Walaupun aku tahu, aku orang yang tidak berperasaan sejak dulu.
Namun ketahuilah. Ini semua rumit.
Dan seiring berjalannya waktu. Aku sadar. Sejujurnya aku sudah menemui seseorang yang dapat mengisi hidupku. Hingga nanti
Kriteria seseorang idaman yang aku impikan musnah dengan adanya dia yang mengisi hari hari
Dan sejak itulah aku tak memperdulikan fisik
Walaupun aku sedang pasang telinga, mengenai mulut mulut yang mengomentari ketidakcocokan hubungan kami
Tapi aku tahu. Mereka hanya bisa menilai. Dan tidak tahu apa yang aku rasakan. Dan jujur. Aku juga kaget pada perubahan diriku sendiri
Boleh diakui, sebelum bertemu dengannya. Aku mempunyai seseorang yang selalu aku sukai, aku tunggu, bahkan aku bayangkan sejak aku menduduki bangku SMA. Padahal aku tau ia tak mempunyai sosial media yang aktif. Ntahla, terkadang karna kesukaan, aku bisa mengecek akun miliknya tanpa sadar telah berapa kali aku menjadi agen detektif. Tiap hari, selalu aku pantau. Tak hanya dari akunnya, namun teman temannya.
Tapi, sejak kehadiran seseorang itu. Aku tak pernah memantau bahkan tak tahu apa kabarnya. Dan aku tidak peduli lagi. Karena jujur dia berhasil membuatku lupa tentang dunia lamaku
Aneh memang. Terlihat ajaib
Namun inilah cinta
Tak pernah diduga rasanya
~
Tak pernah diduga rasanya bukan berarti tak ada rasa pahit. Banyak. Sangat banyak. Untuk pertama kali disaat aku menjalani hubungan namun banyak rasa yang telah aku alami. 6 bulan setelah aku mengenalinya. Satu hal pahit terjadi padaku. Yang hingga sekarang tidak bisa aku lupa bahkan terus mengiang ngiang di pikiran jika aku melupakannya. Kau tau apa yang terjadi?
Aku terlalu dalam mencintai. Sehingga aku lupa bahwa aku bukanlah satu-satunya benalu di dalam sebuah pohon. Aku tidak sadar. Ada orang lain yang mengisi.
Sudahlah, itu sudah berlalu. Dan aku juga sudah memaafkannya. Walaupun aku tidak bisa melupakannya.
Hari demi hari semakin berantakan. Ada saja yang membuat hubungan kami menjadi jadi. Namun semakin di akhir penghujung sekolah, hubungan kami bisa terbilang membaik. Karena kami sadar, waktu kebersamaan semakin menipis pula.
Hari yang tidak pernah aku nantikan, namun pasti terjadi. Itu datang. Dimana aku harus mendiami kota ini sendiri. Tanpa dia. Yang biasa ku temui di sepanjang sudut kota ini. Namun aku harus terbiasa, dan harus merelakan. Aku tidak siap. Tapi... Apa boleh buat. Tak bisa dipungkiri
Hubungan jarak jauh. Aku percaya itu. Selagi saling mempercayai, sekuat apapun godaan tidak akan pernah tersiku sedikitpun. Tapi aku salah. Hal yang aku takuti selama ini adalah ketidaksanggupan tanpanya. Tapi bukan itu masalahnya.
Hari demi hari. Yang aku harapkan dia selalu ada, kini sirna. Hilang. Ntahlah
Aku tak menemukan dia lagi
Dia berubah
Berubah seiring berjalannya waktu
Berubah karena jarak
Dan berubah karena aku
Jujur. 1 bulan pertama sejak mengenal kata 'jarak' aku biasa saja
Bahkan yakin
Yakin tak terjadi apa apa
Yakin akan sama seperti dulu
Yakin tak ada perubahan
Dan yakin tak ada masalah karena jarak membuat kami lebih menghargai waktu setiap detiknya
Namun
Opini ku salah
Ya. Semua itu salah
Kini yang aku rasakan
Bukanlah ketidakyakinan
Namun hilangnya rasa
Rasa ku semakin lama semakin hilang
Bukan karena lama tak bersua
Tapi karena takut
Takut terlalu jauh aku berharap
Pada seseorang yang sejauh ini telah melupakan semha janjinya
Bahkan mudah saja baginya untuk melupakan kisah dulu yang pernah ia rajut untukku
Ntahla
Terkadang aku tak ingin berpikiran kotor mengenai ada kisah lain yang ia rajut bersama orang lain
Tapi itu terus menghantui ku
Walau aku tahu posisinya sekarang
Sedang tak bersama orang lain
Tapi dapat aku pastikan
Ia akan mendapatkan
Ya. Disana
Seketika aku menyesal
Menyesal mengapa semua ini terjadi
Menyesal memberikan ia kesempatan kedua setelah kejadian itu
Menyesal karena telah memberikan namun disia siakan kembali
Kau tahu?
Aku seperti merasa kehilangan
Aku seperti sangat jauh
Bersama seseorang yang dulu selalu aku banggakan tiap harinya
Ya, memang begitu
Hari demi hari
Aku tak mengerti
Salahku dimana
Apa yang kurang
Dan apa yang aneh
Namun, keadaannya disana
Membuatku terbisu
Melihatnya berhasil terhipnotis
Oleh angin yang mengabaikan ku
Oleh angin yang membujuknya untuk meninggalkanku
Sejujurnya bisa dibilang kami masih bersama
Tapi jauh disini
Aku telah merasakan lama
Pikirannya bukanlah untukku
Ada yang menjanggal
Ntahla
Rasanya aku tak sabar ingin bertemu
Ingin melihat
Ingin mendengar
Ingin mengetahui
Apakah dia masih menghargai ku?
Bagaimanalah
Sesuatu yang sudah berubah
Tak dapat kau ubah kembali
Mungkin saja bisa
Namun sulit
Bagaikan menunggu batu untuk terbelah
Tanpa berbuat apa-apa
Disinilah aku
Sekarang aku merasa sendiri
Sangat sendiri
Aku rindu
Rindu di hargai
Rindu dicintai
Rindu di rindukan
Aku berharap ada orang yang datang yang memberikan semua itu dan kelak akan merubah hidupku
Seperti dulu
Namun aku tak mau
Aku tak mau orang baru
Bukan berarti apa apa
Aku hanya menunggu
Batu itu terbelah dengan sendirinya
Jujur
Aku tahu apa yang kau fikirkan
Aku tau aku bodoh
Sampai sejauh ini
Tapi ketahuilah
Tak peduli seberapa jauh pikiran mu tentang aku
Yang penting
Inilah aku
Merindukan sosok seseorang yang dulu
Yang telah jauh terlempar
Dan mengunci hatinya kembali
Disini aku bingung
Diam
Dan tak tahu
Kunci apa yang harus aku pakai untuk membuka gembok itu
Karena pada dasarnya
Aku telah mencoba semua kunci
Sejujurnya aku lelah
Sangat lelah
Karena aku merasa
Aku telah berjuang sendirian
Tanpa ada bantuan olehnya
Sejujurnya aku kecewa
Sangat kecewa
Pada diri ini yang sangat sulit beranjak
Beranjak untuk pergi
Sejujurnya aku sedih
Sangat sedih
Seseorang yang aku harapkan
Perlahan lahan berubah
Seiring berjalannya waktu
Seolah olah kata katanya bulan lalu
Hanyalah hembusan angin belaka
Yang seharusnya tak ku ambil dengan serius
Disini aku hanya menunggu keputusan bulan depan
Aku menunggu respon dan reaksinya
Jikalau tak sesuai dengan yangaku harapkan
Aku akan beranjak
Untuk pergi
Selamanya.
Karena aku lelah
Melihat orang yang selama ini aku tunggu
Tak menunggu kehadiran ku
Tak menunggu kebersamaanku
Tak menunggu hari hari ku
Aku lelah
Menunggu yang tidak pasti
Karena aku hanya ingin
Menyembuhkan hati dengan menutup hati rapat rapat
Lalu membukanya ketika aku siap
Siap untuk menerima hati yang baru
Dengan perlahan
Aku tidak tahu siapa selanjutnya
Yang pasti aku tak ingin ada kata itu
Aku menunggu
Menunggu yang lama
Untuk kembali seperti dulu
Yang selalu mencariku
Disela kesibukannya
Disela hari harinya
Bukan hanya menonton
Untuk aku yang berjuang sendiri
Komentar
Posting Komentar